Cerita Kg Sebuyau - Ceramah Maulidur Rasul

Assalamualaikum dan Salam Sejahtera..

Hari Sabtu dan Ahad minggu lepas aku berkesempantan berkunjung ke Kg Sebuyau kerana di jemput untuk memberi satu ceramah berkaitan Maulidur-Rasul..Perjalanan mengambil masa lebih kurang 3 jam, bertolak seusai solat zuhur dan tiba di Kg Sebuyau pada jam 5.30 ptg..bertemankan Us. Fakhurulzee, Abg Mohd Sabirin dan Akhi Nazir..aku dan Us.Fahurulzee menumpang bermalam di rumah rakan kami,Us Halis Syafiq

Ceramah bermula selepas solat maghrib..Berikut adalah intipati ceramah tersebut..

Muqaddimah : Rasulullah SAW satu contoh ikutan yang terbaik dari semua aspek termasuk, ketua keluarga, pemimpin masyarakat dan semuanya..

Isi - isi
1) menceritakan tentang tanda-tanda kelahiran Nabi SAW seperti Runtuhnya istana Raja Parsi, kawah api bangsa majusi terpadam dan peristiwa tentera bergajah tewas dengan tentera Allah, burung-burung Ababil (rujuk tafsir surah Al-Fiil)

2) Biodata Nabi secara ringkas..
Nama: Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Abdul Muttalib bin Hashim
Tarikh lahir: Subuh Isnin, 12 Rabiulawal / 20 April 571M (dikenali sebagai tahun gajah; sempena peristiwa tentera bergajah Abrahah yang menyerang kota Ka’abah)
Tempat lahir: Di rumah Abu Talib, Makkah Al-Mukarramah
Nama bapa: ‘Abdullah bin ‘Abdul Muttalib bin Hashim
Nama ibu: Aminah binti Wahab bin ‘Abdul Manaf

USIA 5 TAHUN
Peristiwa pembelahan dada Rasulullah SAW yang dilakukan oleh dua malaikat untuk mengeluarkan bahagian syaitan yang wujud di dalamnya.

USIA 6 TAHUN Ibunya Aminah binti Wahab ditimpa sakit dan meninggal dunia di Al-Abwa’ (sebuah kampung yang terletak di antara Mekah dan Madinah)

USIA 8 TAHUN Datuknya, ‘Abdul Muttalib pula meninggal dunia.
Baginda dipelihara pula oleh bapa saudaranya, Abu Talib.

USIA 25 TAHUN
1· Bermusafir kali kedua ke Syam atas urusan perniagaan barangan Khadijah binti Khuwailid Al-Asadiyah.
2· Perjalanan ke Syam ditemani oleh Maisarah; lelaki suruhan Khadijah..
3· Baginda SAW bersama-sama Abu Talib dan beberapa orang bapa saudaranya yang lain pergi berjumpa Amru bin Asad (bapa saudara Khadijah) untuk meminang Khadijah yang berusia 40 tahun ketika itu.
4· Mas kahwin baginda kepada Khadijah adalah sebanyak 500 dirham.

USIA 40 TAHUN 1· Menerima wahyu di gua Hira’ sebagai perlantikan menjadi Nabi dan Rasul akhir zaman.

USIA 53 TAHUN
1· Berhijrah ke Madinah Al-Munawwarah dengan ditemani oleh Saidina Abu Bakar Al-Siddiq.
2· Sampai ke Madinah pada tanggal 12 Rabiulawal/ 24 September 622M.

USIA 63 TAHUN 1· Kewafatan Rasulullah SAW di Madinah Al-Munawwarah pada hari Isnin, 12 Rabiulawal tahun 11H/ 8 Jun 632M.

3) Kenapa mesti berselawat..berkaitan denga kelebihan-kelebihan berselawat

4) Berakhlak dengan Nabi SAW
Beriman kepada Rasul
Tunduk dan Patuh Kepada Rasul
Cinta Kepada Rasul (Al-Hubb dan Al-Ikhtibar)

Kesimpulan
1- Jangan kita lupakan sejarah Nabi SAW
2- Jangan kita lupakan sejarah kegemilangan Islam


Seusai solat Isyak, kami djemput untuk minum air di rumah Cikgu Alawi, peramah dia ni, banyak yang kami kongsikan ketika itu tapi masa tidak mencukupi kerana kami terpaksa menghadiri jemputan makan malam di rumah En. Muiz @ Setiausaha Surau..
Lebih kurang jam 11 malam, kami beransur pulang,Us Halis membawa kami berjalan2 sekitar kawasan Kg. Sebuyau..

Hari ahad, kami pergi ke pasar Sebuyau mencari juadah untuk bersarapan..kemudian sekali lagi kami meronda-ronda Kg Sebuyau dan berangkat pulang ke Kuching pada jam 11pagi

Mari Mengenali Tokoh - Terkenal di Langit,Tak terkenal di bumi

UWAIS AL-QORNI
Pada zaman Nabi Muhammad SAW, ada seorang pemuda bermata biru, rambutnya merah, pundaknya lapang panjang, berpenampilan cukup tampan, kulitnya kemerah-merahan, dagunya menempel di dada selalu melihat pada tempat sujudnya, tangan kanannya menumpang pada tangan kirinya, ahli membaca Al Qur’an dan menangis, pakaiannya hanya dua helai sudah kusut yang satu untuk penutup badan dan yang satunya untuk selendangan, tiada orang yang menghiraukan, tak dikenal oleh penduduk bumi akan tetapi sangat terkenal di langit. Dia, jika bersumpah demi Allah pasti terkabul. Pada hari kiamat nanti ketika semua ahli ibadah dipanggil disuruh masuk surga, dia justru dipanggil agar berhenti dahulu dan disuruh memberi syafa’at, ternyata Allah memberi izin dia untuk memberi syafa’at sejumlah qobilah Robi’ah dan qobilah Mudhor, semua dimasukkan surga tak ada yang ketinggalan karenanya.

Dia adalah “Uwais al-Qorni”. Ia tak dikenal banyak orang dan juga miskin, banyak orang suka mentertawakan, mengolok-olok, dan menuduhnya sebagai tukang membujuk, tukang mencuri serta berbagai macam umpatan dan penghinaan lainnya. Seorang fuqoha’ negeri Kuffah, karena ingin duduk dengannya, memberinya hadiah dua helai pakaian, tapi tak berhasil dengan baik, karena hadiah pakaian tadi diterima lalu dikembalikan lagi olehnya seraya berkata : “Aku khawatir, nanti sebagian orang menuduh aku, dari mana kamu dapatkan pakaian itu, kalau tidak dari membujuk pasti dari mencuri”.

Pemuda dari Yaman ini telah lama menjadi yatim, tak punya sanak famili kecuali hanya ibunya yang telah tua renta dan lumpuh. Hanya penglihatan kabur yang masih tersisa. Untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari, Uwais bekerja sebagai penggembala kambing. Upah yang diterimanya hanya cukup untuk sekedar menopang kesehariannya bersama sang ibu, bila ada kelebihan, ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti keadaannya. Kesibukannya sebagai penggembala domba dan merawat ibunya yang lumpuh dan buta, tidak mempengaruhi kegigihan ibadahnya, ia tetap melakukan puasa di siang hari dan bermunajat di malam harinya. Uwais al-qorni telah memeluk Islam pada masa negeri Yaman mendengar seruan Nabi Muhammad SAW yang telah mengetuk pintu hati mereka untuk menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang tak ada sekutu bagi-Nya. Islam mendidik setiap pemeluknya agar berakhlak luhur. Peraturan-peraturan yang terdapat di dalamnya sangat menarik hati Uwais, sehingga setelah seruan Islam datang di negeri Yaman, ia segera memeluknya, karena selama ini hati Uwais selalu merindukan datangnya kebenaran.

Banyak tetangganya yang telah memeluk Islam, pergi ke Madinah untuk mendengarkan ajaran Nabi Muhammad SAW secara langsung. Sekembalinya di Yaman, mereka memperbarui rumah tangga mereka dengan cara kehidupan Islam. Alangkah sedihnya hati Uwais setiap melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka itu telah “bertamu dan bertemu” dengan kekasih Allah penghulu para Nabi, sedang ia sendiri belum. Kecintaannya kepada Rasulullah menumbuhkan kerinduan yang kuat untuk bertemu dengan sang kekasih, tapi apalah daya ia tak punya bekal yang cukup untuk ke Madinah, dan yang lebih ia beratkan adalah sang ibu yang jika ia pergi, tak ada yang merawatnya. Diceritakan ketika terjadi perang Uhud Rasulullah SAW mendapat cedera dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya. Khabar ini akhirnya terdengar oleh Uwais. Ia segera memukul giginya dengan batu hingga patah. Hal tersebut dilakukan sebagai bukti kecintaannya kepada Rasulullah SAW, sekalipun ia belum pernah melihatnya.



Hari berganti dan musim berlalu, dan kerinduan yang tak terbendung membuat hasrat untuk bertemu tak dapat dipendam lagi. Uwais merenungkan diri dan bertanya dalam hati, bilakah ia dapat menziarahi nabinya dan memandang wajah beliau dari dekat ?
Tapi, bukankah ia mempunyai ibu yang sangat membutuhkan perawatannya dan tak tega ditinggalkan sendiri, hatinya selalu gelisah siang dan malam menahan kerinduan untuk berjumpa. Akhirnya, pada suatu hari Uwais mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinya dan memohon izin kepada ibunya agar diperkenankan pergi menziarahi Nabi SAW di Madinah. Sang ibu, walaupun telah uzur, merasa terharu ketika mendengar permohonan anaknya. Beliau memaklumi perasaan Uwais, dan berkata : “Pergilah wahai anakku ! temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa, segeralah engkau kembali pulang”. Dengan rasa gembira ia berkemas untuk berangkat dan tak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkan serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi. Sesudah berpamitan sambil menciumi sang ibu, berangkatlah Uwais menuju Madinah yang berjarak kurang lebih empat ratus kilometer dari Yaman. Medan yang begitu ganas dilaluinya, tak peduli penyamun gurun pasir, bukit yang curam, gurun pasir yang luas yang dapat menyesatkan dan begitu panas di siang hari, serta begitu dingin di malam hari, semuanya dilalui demi bertemu dan dapat memandang sepuas-puasnya paras baginda Nabi SAW yang selama ini dirindukannya.

Tibalah Uwais al-Qorni di kota Madinah. Segera ia menuju ke rumah Nabi SAW, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam. Keluarlah Sayyidatina ‘Aisyah r.a., sambil menjawab salam Uwais. Segera saja Uwais menanyakan Nabi yang ingin dijumpainya. Namun ternyata beliau SAW tidak berada di rumah melainkan berada di medan perang. Betapa kecewa hati sang perindu, dari jauh ingin berjumpa tetapi yang dirindukannya tak berada di rumah. Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi SAW dari medan perang. Tapi, bilakah beliau pulang? Sedangkan masih terngiang di telinga pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman,” Engkau harus lekas pulang”. Karena ketaatan kepada ibunya, pesan ibunya tersebut telah mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi SAW. Ia akhirnya dengan terpaksa mohon pamit kepada Sayyidatina ‘Aisyah r.a. untuk segera pulang ke negerinya. Dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi SAW dan melangkah pulang dengan perasaan haru. Sepulangnya dari perang, Nabi SAW langsung menanyakan tentang kedatangan orang yang mencarinya. Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa Uwais al-qorni adalah anak yang taat kepada ibunya. Ia adalah penghuni langit (sangat terkenal di langit). Mendengar perkataan baginda Rosulullah SAW, sayyidatina ‘Aisyah r.a. dan para sahabatnya tertegun. Menurut informasi sayyidatina ‘Aisyah r.a., memang benar ada yang mencari Nabi SAW dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama.

Rosulullah SAW bersabda : “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia (Uwais al-qorni), perhatikanlah, ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya.” Sesudah itu beliau SAW, memandang kepada Sayyidina Ali k.w. dan Sayyidina Umar r.a. dan bersabda : “Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah do’a dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi”. Tahun terus berjalan, dan tak lama kemudian Nabi SAW wafat, hingga kekhalifahan sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. telah digantikan oleh Khalifah Umar r.a. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi SAW. tentang Uwais al-qorni, sang penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kepada Sayyidina Ali k.w. untuk mencarinya bersama. Sejak itu, setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, beliau berdua selalu menanyakan tentang Uwais al-Qorni, apakah ia turut bersama mereka. Diantara kafilah-kafilah itu ada yang merasa heran, apakah sebenarnya yang terjadi sampai-sampai ia dicari oleh beliau berdua. Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka.

Suatu ketika, Uwais al-Qorni turut bersama rombongan kafilah menuju kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang datang dari Yaman, segera Khalifah Umar r.a. dan Sayyidina Ali k.w. mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais turut bersama mereka. Rombongan itu mengatakan bahwa ia ada bersama mereka dan sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, beliau berdua bergegas pergi menemui Uwais al-Qorni. Sesampainya di khemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar r.a. dan Sayyidina Ali k.w. memberi salam. Namun rupanya Uwais sedang melaksanakan sholat. Setelah mengakhiri sholatnya, Uwais menjawab salam kedua tamu agung tersebut sambil bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada ditelapak tangan Uwais, sebagaimana pernah disabdakan oleh baginda Nabi SAW. Memang benar ! Dia penghuni langit. Dan ditanya Uwais oleh kedua tamu tersebut, siapakah nama saudara ? “Abdullah”, jawab Uwais. Mendengar jawaban itu, kedua sahabatpun tertawa dan mengatakan : “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya ?” Uwais kemudian berkata: “Nama saya Uwais al-Qorni”.

Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali k.w. memohon agar Uwais berkenan mendo’akan untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada khalifah: “Sayalah yang harus meminta do’a kepada kalian”. Mendengar perkataan Uwais, Khalifah berkata: “Kami datang ke sini untuk mohon do’a dan istighfar dari anda”. Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais al-Qorni akhirnya mengangkat kedua tangannya, berdo’a dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar r.a. berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais, untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menolak dengan halus dengan berkata : “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi”.

Setelah kejadian itu, nama Uwais kembali tenggelam tak terdengar beritanya. Tapi ada seorang lelaki pernah bertemu dan di tolong oleh Uwais , waktu itu kami sedang berada di atas kapal menuju tanah Arab bersama para pedagang, tanpa disangka-sangka angin topan berhembus dengan kencang. Akibatnya hempasan ombak menghentam kapal kami sehingga air laut masuk ke dalam kapal dan menyebabkan kapal semakin berat. Pada saat itu, kami melihat seorang laki-laki yang mengenakan selimut berbulu di pojok kapal yang kami tumpangi, lalu kami memanggilnya. Lelaki itu keluar dari kapal dan melakukan sholat di atas air. Betapa terkejutnya kami melihat kejadian itu. “Wahai waliyullah,” Tolonglah kami !” tetapi lelaki itu tidak menoleh. Lalu kami berseru lagi,” Demi Zat yang telah memberimu kekuatan beribadah, tolonglah kami!”Lelaki itu menoleh kepada kami dan berkata: “Apa yang terjadi ?” “Tidakkah engkau melihat bahwa kapal dihembus angin dan dihentam ombak ?”tanya kami. “Dekatkanlah diri kalian pada Allah ! “katanya. “Kami telah melakukannya.” “Keluarlah kalian dari kapal dengan membaca bismillahirrohmaanirrohiim!” Kami pun keluar dari kapal satu persatu dan berkumpul di dekat itu.
Pada saat itu jumlah kami lima ratus jiwa lebih. Sungguh ajaib, kami semua tidak tenggelam, sedangkan perahu kami berikut isinya tenggelam ke dasar laut. Lalu orang itu berkata pada kami ,”Tak apalah harta kalian menjadi korban asalkan kalian semua selamat”. “Demi Allah, kami ingin tahu, siapakah nama Tuan ? “Tanya kami. “Uwais al-Qorni”. Jawabnya dengan singkat. Kemudian kami berkata lagi kepadanya, “Sesungguhnya harta yang ada di kapal tersebut adalah milik orang-orang fakir di Madinah yang dikirim oleh orang Mesir.” “Jika Allah mengembalikan harta kalian. Apakah kalian akan membagi-bagikannya kepada orang-orang fakir di Madinah?” tanyanya.”Ya,”jawab kami. Orang itu pun melaksanakan sholat dua rakaat di atas air, lalu berdo’a. Setelah Uwais al-Qorni mengucap salam, tiba-tiba kapal itu muncul ke permukaan air, lalu kami menumpanginya dan meneruskan perjalanan. Setibanya di Madinah, kami membagi-bagikan seluruh harta kepada orang-orang fakir di Madinah, tidak satupun yang tertinggal.

Beberapa waktu kemudian, tersiar kabar kalau Uwais al-Qorni telah pulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburnya. Di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya. Dan Syeikh Abdullah bin Salamah menjelaskan, “ketika aku ikut mengurusi jenazahnya hingga aku pulang dari mengantarkan jenazahnya, lalu aku bermaksud untuk kembali ke tempat penguburannya guna memberi tanda pada kuburannya, akan tetapi sudah tak terlihat ada bekas kuburannya. (Syeikh Abdullah bin Salamah adalah orang yang pernah ikut berperang bersama Uwais al-Qorni pada masa pemerintahan Sayyidina Umar r.a.) Meninggalnya Uwais al-Qorni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak dikenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais adalah seorang fakir yang tak dihiraukan orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu.

Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya : “Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais al-Qorni ? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya hanyalah sebagai penggembala domba dan unta ? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau telah menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang di turunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya siapa “Uwais al-Qorni” ternyata ia tak terkenal di bumi tapi terkenal di langit.

ISTERI SOLEHAH BIDADARI RUMAHTANGGA



Asma' binti Kahariyah Fazari diriwayatkan telah berkata kepada puterinya dihari pernikahan anaknya itu:
"Hai anakku, kini engkau kan keluar dari sarang di mana engkau dibesarkan. Engkau akan berpindah ke sebuah rumah dan hamparan yang belum engkau kenal dan berkawan pula dengan orang yang belum engkau kenali. Itulah suamimu.
Jadilah engkau tanah bagai suamimu (taati perintahnya) dan ia akan menjadi langit bagimu (tempat bernaung).
Jadilah engkau sebagai lantai supaya ia dapat menjadi tiangnya. Jangan engkau bebani dia dengan pelbagai kesukaran kerana itu akan memungkinkan ia meninggalkanmu.
Janganlah engkau terlampau menjauhinya, agar ia tidak melupaimu.Sekiranya dia menjauhimu,maka jauhilah dia dengan baik.
Peliharalah suamimu itu dengan baik. Jagalah mata, hidung dan anggotanya yang lain.
Janganlah kiranya suamimu itu akan mencium sesuatu darimu melainkan yang harum. Jangan pula ia mendengar sesuatu darimu melainkan yang enak dan janganlah ia melihatkan melainkan yang indah sahaja pada dirimu."
Kalau wanita ingin menjadi isteri yang baik, dipihak lelaki juga berhasrat memiliki wanita yang begitu. Mereka (para suami ) ingin benar punya isteri yang menyambut kepulangan dari tempat kerja dengan wajah yang manis dan ceria, senyum menawan, pakaian yang bersih dan wangi dan rumahtangga pula berada dlm keadaan bersih kemas dan terurus. Bila mata sedap memandang, tenang dan damailah hati suami.
Bukan itu saja suami juga bercita-cita memiliki seorang isteri yang boleh menjadi penghibur dirinya, boleh berkongsi masalah dengannya,faham apa yang disenangi,tahu mengambil hati suaminya disamping boleh memberi layanan-layanan yang menyenangkan dan mengembirakan suami. Itulah wanita idaman setiap lelaki. Pendek kata bagaimana lelaki akan dilayan oleh bidadari di syurga kelak begitu jugalah keinginan lelaki berhajatkan layanan dari seorang isteri seorang bidadari rumahtangga. Oleh sebab itu dikatakan rumahtangga yang bahagia itu ialah syurga tentulah ada bidadarinya. Siapa lagi kalau bukan isteri yang solehah yang layak menyandang gelaran bidadari dunia.
Isteri yang solehah kan berusaha memberi wajah jernih pada rumahtangga. Kasihsayang yang lahir adalah ahasil dari masing-masing hendak mencari keredhaan Allah, bukannya dorongan nafsu semata-mata.Masing-masing suami isteri meletakkan Allah dan akhirat yang lebih besar dan utama.
Iateri yang solehah tidak terasa hina menjadi pelayan suami, malah sebaliknya rasa bangga dan bahagia kalau boleh melakukan tugas-tugas itu dengan baik dan sempurna. Gembira kerana yakin dengan janji Allah sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah s.a.w yang bermaksud:
"Apabila seorang perempuan mencuci pakaian suaminya,maka Allah mencatat baginya seribu kebaikan dan mengampuni dua ribu kesalahan dosanya, bahkan segala sesuatu yang disinari oleh matahari memohon ampun baginya serta Allah mengangkat seribu darjat baginya."
"Wahai Fatimah, setiap wanita yang mengeluarkan peluh ketika membuat roti,Allah akan membina tujuh parit antara dirinya dengan api neraka. Jarak antara parit itu ialah sejauh bumi dangan langit."
"Wahai Fatimah,setiap wanita yang berair matanya ketika memotong bawang untuk menyediakan makanan keluarganya, Allah akan mencatit untuknya pemberian sebanyak yang diberi kepada mereka yang menangis kerana takutkan Allah."
Siapa yang tidak mahu kemuliaan ini hanya dengan melakukan tugas yang ringan?Seorang isteri yang solehah akan sentiasa mencari-cari jalan untuk menyenangkan hati suami dan menutupi ruang-ruang untuk menyusahkan dan mencurigakan suami terhadap dirinya. Dia tidak akan membimbangkan suaminya terhadap dirinya. Maruah dirinya sebagai seorang isteri senantiasa dipelihara dan dijaga kerana itu juga yang menjadi syarat untuk dia mendapat keredhaan Allah dan keselamatan di akhirat nanti.Setiap rumahtangga yang dihuni oleh isteri yang solehah bererti rumahtangga itu telah memiliki perbendaharaan yang termahal di dunia dan di sisi Allah rumahtangga itu mendapat perhatianNya.
Sabda Rasulullah s.a.w yang bermaksud :
" Seorang wanita yang solehah itu lebih baik daripada seribu orang lelaki yang tidak soleh dan seorang perempuan yang berkhidmat melayan suaminya selama seminggu maka ditutuplah daripadanya tujuh pintu neraka dan dibukakan lapan pintu syurga dan dia bebas masuk dari pintu mana yang disukainya tanpa hisab."
Isteri solehah biasanya menjadi milik lelaki yang soleh. Tetapi ada juga ketikanya isteri solehah bersuamikan lelaki yang toleh (jahat). Bolehkan kedamaian dan keamanan wujud dalam rumahtangga bilamana suami kufur dengan Allah dan buruk akhlak terhadap isterinya?. Isteri yang menghadapi persoalan begini boleh tertekan jiwanya. Ada yang tidak sabar dengan kerenah suami hingga tidak terfikir cara lain untuk menyelamatkan jalan hidup yang dipilihnya melainkan berpisah saja dari suami.
Dalam hal sebegini, si isteri perlu banyak bersabar dan selalu bermunajat pada Allah. Ingatlah mungkin kesusahan yang kita hadapi adalah ujian dari Allah s.w.t. Ada dua maksud Allah mendatangkan ujian iaitu pertamanya ujian itu didatangkan sebagai penghapusan dosa dan keduanya untuk peningkatan darjat disisi Allah.
Jadi jika kita boleh bersabar maka terhapuslah dosa-dosa yang lalu. Sebaliknya tidak mustahil juga itu merupakan peningkatan darjat dari Allah. Kalau tidak diuji, mungkin hati kita akan terpaut benar dengan suami, menyayangi suami lebih dari Allah. Jadi untuk melihat sama ada kita membesarkan suami atau membesarkan Allah maka Allah timpakan ujian itu. Kalau benar hati sayang dan takut pada Allah tentu isteri tidak teragak-agak untuk bertindak membesarkan dan menyayangi Allah daripada suaminya sendiri.
Ingatlah, sejahat-jahat suami kita, tidaklah dia lebih jahat daripada Firaun, sedangkan isteri Firaun, Siti Asiah boleh bersabar menghadapi kesombongan dan keangkuhan Firaun sehinggakan Siti Asiah disenaraikan oleh Allah termasuk di dalam barisan antara wanita-wanita solehah yang dijamin syurga.
Oleh itu kalau suami kita masih belum diberi petunjuk janganlah kita jemu untuk memujuk dan mentarbiah, berlaku baik dan paling penting mohon dan bermunajatlah kepada Allah agar Allah mengubah hatinya untuk tunduk pada perintahNya.
Rasulullah s.a.w pernah bersabda :
"Wanita yang taat akan suaminya semua burung-burung diudara, ikan-ikan di air, malaikat di langit, matahari dan bulan semua beristighfar baginya selama mana ia (isteri) masih taat pada suaminya dan diredhai (serta menjaga sembahyang dan puasanya)."

Hadis



Dari Huzaifah bin Al-Yamani r.a. katanya : Biasanya orang banyak bertanya kepada Rasulullah SAW tentang kebajikan. Tetapi aku bertanya kepada beliau tentang kejahatan kerana aku takut kejahatan itu menimpaku. Lalu aku bertanya " Ya Rasulullah, kami dahulu berada dalam kejahilan dan kejahatan. Kerana itu Allah Taala menurunkan kebaikan (agama) ini kepada kami. Mungkinkah sesudah ini timbul lagi kejahatan? Jawan Nabi SAW : Tentu! Tanyaku : Sesudah itu mungkin pulakah datang kebaikan? Jawab Nabi SAW : Ya, tetapi sudah cacat! Tanyaku : Apa cacatnya? Jawab Nabi SAW : "Suatu kaum (bangsa) membuat peraturan (perundang-undangan) di luar sunnahku dan memimpin tanpa hidayahku. Engkau mengerti tentang kebijaksanaan mereka dan tidak menyukainya". Tanyaku : Sesudah kebaikan itu, timbul lagikah kejahatan? Jawab beliau : Ada, iaitu orang-orang yang selalu memanggil-manggil di pintu neraka, lalu siapa yang memenuhi panggilannya dilemparkannya ke dalam itu" Tanyaku : Ya Rasulullah, tunjukkan kepada kami ciri-ciri mereka. Jawab Nabi SAW : Baik, iaitu orang-orang yang kulitnya sama dengan kita (mengaku beragama Islam)dan mereka berbicara memakai lidah (hadis) kami” Tanyaku : Bagaimana petunjuk anda seandainya aku menemui hal yang demikian? Jawab Nabi SAW : Tetaplah kamu bersama jemaah kaum muslimin dan Imam ( pemimpin atau pembesar) mereka? Tanyaku : Jika tidak ada jemaah dan Imam? Jawab beliau : “Tinggalkanlah parti-parti itu semuanya. Sekalipun engkau akan memakan akar-akar kayu, namun engkau tetaplah pada pendirianmu itu”

Jalan Mujahadah



Jalan Mujahadah
Album : Masih Ada Waktu
Munsyid : Anugerah
http://liriknasyid.com

Jalan mujahadah
Menuju mahmudah
Tangganya licin dan berlumut
Basah dan berselut

Langkahnya mesti diatur awal
Gerak dicatur tangkas
Musuhnya tak pernah alpa
Siap siaga menerpa

Sunyi bukannya janji tenang
Hidup tidak mengundang senang
Ujiannya bagai air mengalir
Tiada noktah pengakhir

Masalah datang berulang
Godaan mengimbau di setiap ruang
Dalangnya nafsu yang tak mundur
Syaitan yang tak pernah tidur

Tiada perhentian buat berehat
Bukan di sini melepas penat
Hiburannya tenang hati di dunia
Bahagia hakiki di syurga

Kerana berjuang ertinya berkorban
Berkorban ertinya terkorban
Terkorban ertinya menderita
Derita asam garam perjuangan

Lagu: Abu Bakar Md Yatim
Lirik: Pahrol Mohd Juoi


Salah satu lagu nasyid yang aku minat sejak dari awal persekolahan. penuh dengan mesej yang sepatutnya diamalkan oleh setiap muslim

Amar Makruf Nahi Mungkar

Keruntuhan akhlak di kalangan remaja dan belia masa kini semakin menjadi-jadi.

Memetik ucapan bekas PM.. "saya mahu setiap rakyat Malaysia mempunyai modal insan iaitu personaliti yang tinggi hemahnya, tinggi budinya, tinggi pengajiannya, tinggi kejayaannya dalam apa juga bidang yang diceburi, hatta menjadi seorang yang gemilang. Ini kerana, anak kunci kecemerlangan ialah displin dan jatidiri seseorang individu. Ini akan mendorong kecemerlangan diri, keluarga, masyarakat dan negara"

Namun begitu, setelah negara kita merdeka 50 tahun dulu, adakah jiwaraga, minda dan tingkah laku rakyat Malaysia benar-benar merdeka?

Sebagai renungan untuk menjawab persoalan diatas, sebanyak 1.13% remaja terlibat dengan kes buang bayi, 40% menonton bahan lucah, 16% berjudi, 70% merokok, 14% terlibat dalam penyalahgunaan dadah, 25% mengambil minuman keras dan 18% pernah melakukan seks bebas(sumber Majalah Siti, 2006)...Angka-angka ini menunjukkan bahawa ternyata telah ramai anak remaja yang rosak akhlaknya dan angka-angka ini akan bertambah dari tahun ke tahun...

Amar Makruf Nahi Munkar
Konsep amar makruf nahi munkar terbahagi kepada 2 bahagian,

Pertama amar makruf iaitu mengajak kebaikan. konsep ini perlu difahami oleh setiap insan yang bergelar muslim, tidak kira ustaz, ulama, guru, bapa, emak dan sebagainya. setiap yang bernama muslim hendaklah sentiasa berusaha mengajak orang lain membuat kebaikan. Kita tanya dalam hidup kita, Adakah hari ini aku telah mengajak orang lain membuat kebaikan???? kalau sudah, Alhamdulillah tapi kita gandakan usaha kita dalam mengajak orang lain membuat kebaikan, kalau belum, kita masih belum terlewat untuk mengajak orang lain membuat kebaikan...

Jangan jaga tepi kain orang...inilah masalah orang kita, sikap 'pedulisme' makin hari makin hilang dalam jiwa masyarakat kita, bukankah Islam mengamjur agar kita mengambil berat hal-hal saudara kita, mada kita perlu menjaga tepi kain orang terutama dalam hal-hal sosial dan kemasyarakatan.

Kedua nahi munkar yang membawa maksud mencegah kemungkaran dalam satu hadis Nabi SAW yang bermaksud " Barangsiapa dikalangan kamu yang melihat kemungkaran, maka hendaklah dia mencegah dengan tangannya, sekiranya tidak mampu maka hendaklah dia mencegah dengan lidahnya dan sekiranya dia tidak mampu juga, maka hendaklah dia mencegah dengan hatinya dan itulah selemah-lemah iman"

Hadis ini jelas bahawa mencegah kemungkaran itu perlu dilakukan oleh setiap muslim, tidak perlu kita menunggu pegawai penguatkuasa datang datang untuk mencegah kemungkaran, sebaliknya kita bertindaklah terlebih dahulu sekiranya ianya berlaku dihadapan kita..

Jadi, kita hendaklah memahami konsep amar makruf nahi mungkar dan melaksanakannya demi menyelamatkan maruah umat Islam...

Belajar



"When the students are ready, the teacher will appear,
But when the teacher has appear, the students have not ready"

(kata-kata yang aku adaptasi dari kata-kata En. Erfino Johari)

"Apabila pelajar sudah bersedia maka guru akan muncul,
Tetapi apabila guru sudah muncul pelajar masih belum bersedia"

Suasana belajar dan mengajar pada hari ini berbeza dengan suasana 10 tahun dulu..
Suasana pada hari ini perlukan guru yang berupaya membimbing jiwa-jiwa remaja ini akan tidak tersasar landasannya...
Justeru itu, andai mereka melakukan kesilapan, jangan terus menghukum,sebaliknya cubalah memahami masalah mereka, sekiranya perlu membuat teguran, buatlah teguran..tetapi janganlah samapai memaki hamun mereka kerana mereka juga manusia sama seperti kita, punya jiwa dan perasaan..
Buatlah teguran secara berhikmah, kadang-kadang teguran itu tidak perlu kepada kata-kata-kata, cukup sekadar berdiam diri selama 45 minit dihadapan kelas, agar mereka mengerti kesilapan mereka, mereka tahu kelemahan mereka...moga mereka tidak mengulanginya kembali dimasa akan datang..

p/s: pilihlah cara teguran yang sesuai dengan kesilapan...SELAMAT BELAJAR DAN SELAMAT MENGAJAR